Sabtu, 28 Agustus 2010

Tempat Perjalanan Hidupnya Berasal

Seorang gadis kecil berlari dengan riang menghampiri sahabat kesayangnya yang sudah menunggu dirumahnya. Hari ini mereka berjanji akan berkeliling dengan menggunakan sepeda motor. Seorang gadis kecil itu bernama putri, sedangkan sahabatnya bernama nisa. Putri adalah seorang gadis kecil yang cantik, anggun, femininim dan berhati lembut. Beda dengan sahabatnya yang tomboy, berantakan dan ceroboh. Terkadang nisa sering merasa minder jika berada disamping putri namun putri yang baik itu selalu memeluknya dan merasakan kelembutan yang berasal dari detak jantungnya dan sahabatnya, yang membuat ia tahu bahwa nisa minder berada disampingnya. Putri selalu berkata dengan riang, "kalo kamu ngejauh aku pasti bakal deketin kamu, aku juga bisa motong rambut aku biar aku sama kayak kamu!". Putri selalu tak ingin sahabatnya merasa minder jika ada didekatnya. Ia rela melakukan apa saja agar sahabatnya tidak menjauhinya. Bahkan mungkin demi sahabatnya putri pasti rela memotong rambut panjang kesayangannya agar tidak berbeda dengan nisa. Putri sering mengajarkan banyak hal kepada nisa, hal-hal yang berhubungan tentang kewanitaan. Mengajarkan nisa cara merawat rambut dengan baik, mengajarkan cara memakai miniset, mengajarkan memakai bedak dan menguncir rambut walaupun rambut nisa sangat pendek dan hampir seperti rambut seorang anak laki-laki. Sedangkan nisa berkebalikan dengan putri, nisa sering mengajarkan putri hal-hal yang bersifat kelaki-lakian. Nisa mengajari putri cara untuk membunyikan dan menggelembungkan permen karet, bermain bola, mengajarinya memanjat pohon, dan cara memotong rambut walaupun putri tak mungkin melakukannya karena putri sangat menyayangi rambutnya. Rasanya tak mungkin ia memotong rambut panjangnya, ia selalu menganggap rambutnya sebagai adiknya ia selalu menjaganya baik-baik maklum sebagai anak tunggal ia ingin sekali memiliki adik. Pernah ia menangis seharian karena rambutnya terkena permen karet oleh teman sekelasnya. Malamnya nisa menghampirinya untuk menghiburnya dan menyuruhnya memotong rambutnya yang lengket. Akan tetapi bukan putri namanya apabila ia mau memotong rambutnya, ia tetap berkelas kepala mempertahankannya membuat ibunya terpaksa membersihkan rambutnya denga minyak tanah. Ia adalah cermin gadis kecil yang sempurna dimata nisa. Sedangkan putri selalu menganggap nisa cerminan laki-laki yang suatu saat ia akan mencari laki-laki seperti sahabatnya nisa. Banyak hal yang mereka lalui bersama walau tak setiap hari karena putri harus belajar. Suatu saat putri ingin sekali diajarkan bersepeda. Ia menunggu nisa pulang sekolah sampai tak sadar ia tertidur diteras depan rumah nisa. Putri sangat pintar namun jika berurusan dengan hal seperti bersepeda, bermain tangkap bola dan bertengkar ia sangat lamban. Berulang kali ia harus jatuh dalam bersepeda, terlempar bola dan menangis jika bertengkar. Nisa selalu mengulurkan tangannya untuk membantu putri berdiri, tak hentinya menyemangati putri untuk terus berusaha. Sampai akhirnya putri menyerah dan enggan bersepeda lagi. Putri lebih memilih diboncengi sahabatnya nisa. Mereka sering berboncengan menuju tempat-tempat yang jauh, dimana mereka bisa melalui hari bersama-sama. Hari-hari itu telah berlalu, sekarang nisa berada dibangku smp dan telah bisa menaiki motor. Masih seperti dulu, putri masih tidak bisa menaiki sepeda sampai akhirnya ia minta diajarkan menaiki motor. Karena rasa saying nisa padanya, nisa tak mau mencelakai putri sehingga melarangnya untuk belajar menaiki motor.
Yah pada akhirnya nisa-lah yang harus memboncenginya, seperti seharusnya. Tiba saatnya kali ini kami akan berboncengan untuk bermain kerumah saudara dari putri. Putri sangat senang dan nyaman diboncengi oleh nisa. Bahkan dalam  kecepatan tinggi pun ia memaksa nisa untuk menambah kecepatan motornya. Karena menurut putri dengan melaju dengan kecepatan yang tinggi, mereka bisa menembus angin dan melayang seperti terbang diangkasa. Nisa pun juga merasa begitu, semakin lama nisa semakin menambah kecepatannya. Saking senangnya mereka menembus angin seakan membelahnya nisa tak sadar ternyata ada bahaya yang mengancamnya. Seketika saja ada mobil yang memotong perjalanan mereka. Karena mereka dalam keadaan yang tidak siap akhirnya kecelakaan pun tak bisa dihindarkan. Putri terlempar sejauh satu meter sedangkan nisa badannya menyerempet aspal dan tangan kirinya tertimpa motornya. Nisa sempat berjalan menghampiri putri yang sepertinya tak sadarkan diri dan akhirnya nisa melihat sahabatnya diam tak ada reaksi apa-apa. Nisa memeluk putri dan berteriak memanggil-manggil nama putri berharap ada keajaiban terjadi. Hal itu tidak terjadi, detak jantung putri yang biasa nisa rasakan lembut tidak ada dan darah pun keluar dari kepala dan dibeberapa tubuh putri. Orang-orang datang berhamburan untuk membantu mereka. Orang-orang itu mengangkat dan mengambil putri dari pelukan nisa. Nisa melepaskan pelukan putri dengan enggan. Membantu memapah nisa untuk pindah ketepi jalan. Nisa pun tak sadarkan diri, hingga akhirnya ia sadar ketika ambulance telah membawanya. Tanpa menghiraukan rasa sakit disekujur tubuhnya terutama ditangan kirinya nisa menangis akan kepergian putri, sahabat tercintanya. Sakit ditangannya tidak sesakit hatinya, hatinya terasa tercabik-cabik melihat sahabatnya yang terbujur kaku. Tak henti-hentinya nisa menangis dan memeluk putri berharap dan berharap terus ada keajaiban datang. Namun takdir telah digariskan, putri telah tiada. Putri, sahabat yang mengisi hari-hari nisa telah pergi. Kenangan indah yang selama ini mereka ukir terasa hilang begitu saja. Karena tak mampu menahan berbagai rasa yang bergejolak antara sedih, kehilangan dan perasaan bersalah nisa akhirnya pingsan. Nisa sadar kembali setelah ia berada dirumah sakit dalam keadaan tangan kiri yang retak.
Sejak saat itu tak ada seorangpun yang mengungkit-ungkit kejadian itu kepada nisa.  Akan tetapi walau tidak diungkit pun, kejadian pahit itu tidak bisa di hilangkan dari ingatan nisa. Sejak saat itu juga nisa tak pernah lagi mau memandang mobil ambulance, mobil yang menjadi tempat terakhir mereka bersama. Jika sendiri, nisa masih sering membawa motor dengan kecepatan yang tinggi. Mungkin ia berharap bisa menemui sahabat yang ia sayangi apabila ia melakukan hal itu. Namun ia tak pernah membawa motor dengan kecepatan tinggi apabila ia memboncengi seseorang. Ia tak ingin  kejadian pahit itu terjadi 2x..
Selang beberapa tahun, Ia tetap tak bisa melupakannya, kejadian pahit yang pernah ia dan sahabatnya alami. Namun kenangan lalu nan indah bersama sahabatnya membuatnya merasa bahwa putri tidak akan suka nisa mengingatnya, mengingat kejadian pahit yang tak akan bisa dihilangkan seumur hidup. Tetapi nisa sadar, yang harus ia lakukan sekarang bukanlah terus bersedih. Ia harus terus berjalan lurus kedepan, berjalan sesuai dengan garis yang telah ditakdirkan oleh Tuhan. Putri mungkin telah pergi dari dunia ini, akan tetapi kenangannya dengan putri tidak akan pernah pergi sampai kapanpun.
Kini nisa menjalani hari-harinya sebagai gadis yang semakin dewasa dengan pelajaran-pelajaran hidup yang ditorehkan putri diatas kertas hati nisa.
Hasta la vista, putri. Selamat tinggal untuk selamanya...
01 Juli 200x.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar