Minggu, 07 Oktober 2012

Obo Omo

Hari ini akhirnya omo menceritakan ke galauan nya. Kegalauan yang ada pada hatinya. Bersama dengan kelima temanku, ia menceritakan bahwa ia ditembak oleh obo kira-kira beberapa waktu yang lalu, tepatnya tanggal 4 Oktober 2012 di suatu tempat. Omo yang bingung akan perasaanya menanyakan apa yang harus dia lakukan sekarang. Dua diantara teman kami menyarankan untuk menerimanya, satu diam, dan ketiga yang lainnya menyarankan untuk memikirkannya lagi, sedangkan satunya lagi tidak bisa berkata apa-apa karena dia pendiam. "Aku di pihak mana?", pertanyaan itu bisa saja keluar. Aku ada di pihak yang menyarankan untuk memikirkannya kembali, bukan cemburu ataupun tidak suka akan tetapi aku hanya tidak ingin omo cepat mengambil keputusan tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Agak sedikit curcol sih, aku hanya takut apa yang terjadi padaku juga terjadi pada omo sahabatku. Aku memang menanti-nanti kapan kira-kira obo akan melancarkan panah asmaranya ke obo karena dari gelagatnya tidak bisa dipungkiri, obo memang suka dengan omo. Tapi aku takut hubungan mereka akan seperti hubunganku dan ai. Dimana ketika  sudah tak bersama lagi kami tak berkomunikasi, hanya dapat memandangnya dari kejauhan dan memalingkan wajah ketika ia melihat kearahku, rasanya sakit sekali. Hanya bisa berharap semua kembali seperti dulu, seperti sedia kala dan seperti saat kita bersama dulu. Aku melihat omo sedikit mengeluarkan air mata, karena hatiku sejak berpisah dengannya jadi sangat sensitif tak terasa airmata keluar dari mataku. Aku pun menangis, dan begitu salah satu teman kami bertanya "caca, nangis kenapa?" aku langsung menjawab "sedih soalnya omo nangis". Omo pun langsung menambahkan "ca, omo ga nangis. Omo pilek dan bersin jadi mungkin mata omo jadi kayak berair". Betapa bodohnya aku, pada saat itu secara tidak sengaja aku mengeluarkan isi hatiku dan kelemahanku. Tiba-tiba salah satu teman kami mencoba menghiburku "sudah ca, jangan menangis. Eh liat tuh, ada dosen kesayangan lo bu Fauziah. Ingin rasanya menghentikan airmataku dan menjabat tangannya, tapi rasanya susah sekali. Bu Fauziah tersenyum dan mengungkapkan statement wanitanya "Udah ca, cowok emang kayak gitu. cowok memang egois, biarpun sebenernya cowok yang salah, tetep aja dianggapnya kita(cewek) yang salah. Sederetan dari ujung lorong sono sampai sini juga semua cowok egois. Udah ca, cowok banyak kok". Rasanya saat itu hatiku mendadak jadi kuat berkat kata-kata si ibu, tapi aku ga bisa bohong rasa penyesalanku yang ada didalam diri membuat aku tambah sedih dan menyesal setengah mati. Tiba-tiba dosen datang dan memulai kuliahnya sehingga membuatku dengan terpaksa menghentikan airmataku. Di pelajaran mata kuliah itu kata-kata bu fauziah membuatku berfikir dan menyesal sekali. Ai bukan orang yang egois, ai sangat perhatian padaku justru akulah yang sering kali egois dan merasa tidak puas dengan sikap dan perhatiaannya. Setelah usai perkuliahan hari ini, aku dan omo langsung beranjak karena hasrat ingin pipis yang sejak perkuliahan dimulai kami tahan. Ketika hendak sampai di ujung koridor tiba tiba obo datang dan berkata kepadaku "maaf ya ca, gue pinjem dulu omonya" sambil memegang pundak omo. Saat itu obo pasti ingin memberi kado karena tanggal 5 Oktober 2012 kemarin omo berulang tahun. Aku dan beberapa temanku sangat senang melihatnya sambil tersenyum nakal. Setelah obo memberikan kado itu, obo langsung beranjak pergi dan omo pun kembali bersama kami menuju ke kosan salah satu teman kami. Sesampainya di kosan, kami memaksa omo untuk membuka kado dari obo dan seketika itulah omo membukanya obo memberikan omo sebuah jam tangan cantik "so sweet". Obo tau belakangan omo tidak memakai jam tangannya padahal biasanya omo sering memakainya. Rasanya bahagia sekali melihat kedekatan hubungan sahabat kami, romantis sekali. Tapi jujur aku iri, andaikan saja aku bisa mengontrol emosi dan sifatku aku pasti masih bersama ai menjalani hubungan seperti dulu seperti omo. Tindakan lebih penting dari perkataan, orang lain tidak perlu tahu hubungan omo dan obo tapi mereka dekat.   Seperti hubungan kami dulu, aku dan ai, hubungan kami hanya kami yang tahu tanpa perlu mengumbar-umbar hubungan kami ke oranglain. Rasanya iri sekali Tuhan, Haruskan aku sedih diatas kebahagiaan orang lain? Aku mohon Tuhan, berikanlah petunjuk ke ai agar dapat bersamaku kembali merajut mimpi bersama kembali seperti dulu. Yakinkanlah dia ya Tuhan, bahwa aku benar-benar menyesali kesalahan-kesalahanku padanya. Buatlah ia menmaafkan kesalahan-kesalahanku ya Tuhan. Buatlah ia mengerti itu semuanya ya Tuhan. Buatlah ia mengerti ketulusanku,  rasa sayangku yang sangat dalam kepadanya. Buatlah dia menyadari semuanya ya Tuhan. Buatlah ia bahagia Tuhan.
Besok adalah hari penentuan bagaimana jawaban perasaan hati omo ke obo. Apapun itu, aku akan mendukung keputusan omo. Keduanya sahabatku, teman dekatku aku ingin yang terbaik untuk mereka. Mereka yang akan menjalani semuanya. Aku hanya bisa berdoa, berdoa dan berharap yang terbaik untuk kalian apapun itu. Semoga apa yang ada dihati kalian dapat tersampaikan dan kalian inginkan dapat tercapai.
amin. Fighting Omo! Fighting Obo!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar