Senin, 31 Mei 2010

PARA PEKERJA GALIAN PIPA

Mereka bekerja setiap waktu dalam waktu yang lama. Panasnya terik matahari dan dinginnya malam sudah menjadi teman kesehariannya.  Baju putih yang dikenakannya sebelum bekerja tampak lusuh namun bersih. Jika hari menjelang petang, baju yang putih itu tak lagi menampakkan kebersihannya. Tanah bekas galian itu mengotori baju dan badannya, bercampur dengan peluh dan lelah yang terasa. Ia bekerja tanpa mengenal lelah. Terkadang ia  dicaci maki, dihina oleh bos maupun pengguna jalanan. Tapi hal itu tidak membuatnya gentar. Ada anak dan  istri yang menunggu dirumah. Menunggu kedatangan para penggali pipa itu untuk memberikan uangnya demi sesuap nasi.  Walau hanya nasi satu bungkus,  itu merupakan berkah yang tak ternilai harganya. Jika penggalian pipa itu selesai, penggali pipa itu tak tahu lagi bagaimana cara menafkahi keluarganya. Dari penggalian pipa tersebutlah mereka bergantung. Kadang demi mempercepat selesainya penggalian pipa, mereka lembur dari pagi hingga pagi lagi. Namun upah lembur yang didapat terasa masih kurang untuk makan dan menyekolahkan anak. Aku salut terhadap mereka, mereka bekerja tanpa mengenal lelah. Bekerja dengan upah yang sedikit. Tetapi aku heran, mengapa dengan upah yang sedikit itu mereka masih taat dan bisa bersyukur kepada Tuhan. Sedangkan aku yang berkecukupan ini merasa masih kurang dan kurang. Terkadang aku kurang menghargai hasil jerih payah orang tuaku, dan bahkan merengek agar orangtuaku memberikan apa yang menjadi keinginanku tanpa mau tahu berapapun sedikitnya uang yang ada dikantongnya. Dari kegigihan pekerja-pekerja itu aku belajar. Aku belajar bagaimana lebih menghargai uang, aku belajar lebih menghargai usaha orang tuaku dalam menafkahiku.  Setiap hari baik siang maupun malam aku melihat penggali pipa itu. Dalam keadaan panas, dingin maupun hujan. Penggali pipa itu bekerja dengan sepenuh hati, bekerja tak kenal lelah untuk anak istri. Walaupun dengan upah yang amat sangat sedikit mereka selalu pulang dengan rasa syukur. Berbahagialah para penggali pipa, kerahkan tenagamu untuk menyekolahkan anak-anakmu setinggi mungkin dan semoga kelak anak-anakmu-lah yang akan membuat perubahan dalam hidupmu. Sehingga kelak tak ada lagi caci maki dan hinaan, yang ada hanyalah senyum bangga atas semua jerih payah yang pernah engkau lakukan. Para pekerja galian pipa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar